GRATIS EBOOK:

Bonus 3 Sekaligus:

Seputar Tanaman Kapol (Kupulaga/Kardamon) (Bagian 1)


Lebih banyak orang mengenal buah kapol atau kapulaga daripada tanaman yang menghasilkannya. Tanaman kapol (Amomum Cardamomum dan Elettaria Cardamomum) tidak berada di seluruh daerah Indonesia, walaupun tanaman ini asli Indonesia. Faktor- faktor ekologi bagi pertumbuhannya ialah curah hujan yang tinggi dalam satu tahun membatasi penyebaran tanaman tersebut di kawasan Nusantara.

Tanaman kapol merupakan penghuni hutan. Namun pada saat ini banyak pula ditanam di pekarangan atau di tegalan. Daerah tanaman kapol asli Indonesia adalah daerah Bengkulu (Muko-muko) dan Palembang (Muaraduo) di Sumatera Selatan. Di Jawa Barat tanaman kapol terdapat di daerah Sukabumi; sekitar Padalarang di daerah bukit kapur Tagogapu dan Singaparna di sekitar daerah Puspahiang dan Banten Selatan.

1.Nama kapol di daerah-daerah
Bila di Jawa Barat dikenal dengan nama kapol, di Jawa Tengah namanya kapulaga, di Madura kapolaga, di Sumatera juga kapulaga, di Minangkabau palaga, dan di Ujungpandang giridimong.

2.Sekelumit sejarah kapol
Sebelum orang Barat mengenal kapol dari Indonesia, mereka mengenal kapol dari Malabar (India) dan Ceylon. Baru dalam tahun 1323 setelah kedatangan seorang rohaniawan Fra Odorigo de Pordenone di pulau Jawa, buah kapol yang berasal dari pulau tersebut dimasukkan ke dalam daftar hasil bumi khas pulau Jawa.
Orang-orang Belanda dengan VOC-nya yang haus terhadap rempah-rempah, sejak tahun 1500, menyatakan bahwa kapol jawa dapat menghasilkan keuntungan yang besar. VOC segera menyatakan hak monopolinya terhadap hasil kapol dari Jawa dan sekaligus dari Ceylon. Penduduk Jakarta diperintahkan untuk mengumpulkan buah kapol. Rakyat diharuskan mengumpulkan buah kapol dari hutan-hutan, yang hasilnya tidak memuaskan si penjajah.

Dalam tahun 1699 buah kapol baru dapat diekspor ke negeri Belanda sebanyak 18.106 pon, seharga FI 16.295,60. Dalam tahun 1715 rakyat di Jawa dipaksa untuk menanam kapol. Tanaman kapol yang kini berada di Jawa Barat mungkin masih merupakan turunan dari tanaman dari zaman itu. Dalam periode tersebut diakui bahwa hasil kardamon dari India lebih tinggi daripada kardamon asli Jawa. Dalam pertengahan abad 18 didatangkan bibit kapol dari India (Malabar) ke pulau Jawa. Hasil percobaan dengan jenis baru itu tidak memuaskan, karena tidak memperhatikan iklim dan jenis tanah yang cocok bagi kapol seberang tersebut. Di samping faktor ekologi yang khas untuk kapol luar negeri yang tidak diperhatikan, percobaan-percobaan tersebut tidak men- dapat bantuan dari rakyat.

Hingga saat ini masih ada sisa-sisa dari kardamon Malabar tersebut, misalnya di daerah Puspahiang, Cibodas Lembang, Cianjur Selatan, dan Sukabumi Selatan.
Kapol luar negeri ini berbentuk malai bunga dan buahnya sangat berbeda dengan kapol Jawa. Di Jawa Barat tanaman seperti itu diberi nama "kapol sabrang".
Dalam dunia perdagangan hingga saat ini, buah kapol diberi nama Cardamomum atau Cardamom Tanaman tersebut mem punyai kedudukan yang tinggi dalam jajaran rempah-rempah, yaitu menduduki tingkat Sembilan Besar di seluruh dunia.

3. Beberapa data botani tanaman kapol
Ada dua jenis kapol, yaitu:
a. Amomum Cardamomum, kapol asli Indonesia
b. Elettaria Cardamomum, kapol Malabar India.
a. Amomum Cardamomum
Amomum cardamomum berbentuk herba tahunan dan membentuk rumpun batang semu; cukup banyak setinggi 2,5 meter.
- Daunnya berbentuk lanset yang cukup panjang dengan kedukan yang berseling.
- Kelopak daunnya menutupi batang, tanpa membentuk tangkai daun bersambung langsung dengan helai daun.
- Helai daun mengandung minyak atsiri cineol yang pedas rasanya. Kadar cineol daun yang masih muda (pucuk) lebih tinggi daripada yang sudah tua.
- Membentuk rimpang yang agak keras, yang berwarna merah darah yang mengandung minyak atsiri pula.
- Mulai berbunga pada umur 2-3 tahun namun praktis tidak menghasilkan buah. Baru setelah berumur 3-4 tahun kapol dapat menghasilkan buah/biji.
- Berbunga mulai turun hujan dan berbunga terus selama musim
hujan. Di sekitar Padalarang dan Puspahiang dalam bulan Agus- tus tanaman kapol masih berbunga dan berbuah.
- Bunga tumbuh dekat pokok batang yang relatif masih muda, dan tumbuh dari rimpang samping (cabang).
- Bunga tumbuh lurus hingga tinggi 8-15 cm berbentuk mulai yang dibentuk oleh beberapa kelopak bunga yang saling tindih. Setiap malai dapat menampilkan 3-8 bunga yang berwarna merah.
- Dari sekian banyak bunga yang dapat menghasilkan buah rata-rata relatif sedikit atau tidak semua bunga menghasilkan buah.
- Bentuk buahnya bulat agak pipih, berkotak tiga ruang, berbiji cukup banyak berwarna hitam dan keriput kulitnya.
- Biji kapol mengandung minyak atsiri cineol rata-rata 12%. Rasa- nya mirip jahe dan merica.

Dalam tahun 1955, Jawa tan Pertanian Kab. Sukabumi, pernah menempatkan sebuah kandang lebah dekat sekelompok tanaman kapol. Hasilnya ialah madu yang rasanya mengandung minyak kapol, pedas, dan hangat. Jelaslah kiranya bahwa lebah mengunjungi bunga kapol untuk mengumpulkan sari bunganya. Dengan kunjungan lebah tersebut, dapat ditingkatkan mutu pernyerbukan, yang berarti ditingkatkannya pembentukan buah.

LINGKUNGAN PERTUMBUHAN
Amomum cardamomum tumbuh baik di berbagai jenis tanah selain di tanah yang berat (sangat liat) dan sukar pembuangan airnya.
Tanaman kapol yang berada di sekitar Tagogapu (Padalarang) memberi petunjuk bahwa kapol dapat tumbuh dengan baik di tanah yang banyak mengandung kapur. Di sekitar Puspahiang tanahnya merupakan tanah lempung laterit. Karena berada di pekarangan tanahnya banyak mengandung bahan organis dan cukup rindang. Hingga saat ini daerah Puspahiang merupakan pusat Amomum cardamomum di Jawa Barat. Dinyatakan oleh penduduk setempat bahwa luas tanaman tidak kurang dari 35 ha. Kebun kapol di daerah ini masih merupakan kebun tumpangsari di pekarangan maupun di tegalan.
Pada umumnya tanaman kapol membutuhkan tanaman peneduh.

Ketinggian tempat dan curah hujan
Daerah-daerah kapol yang hingga kini masih bertahan ketinggian tempat dan curah hujannya adalah sebagai berikut; Buahnya berbentuk kotak dengan tiga kamar, berisi 3-8 biji, keriput bentuknya dan berwarna coklat tua. Setiap biji dibungkus dengan kulit yang tipis. Ukuran buahnya tidak lebih panjang dari 15 mm. Bunganya dapat mengadakan persarian sendiri (self-fertile).

Elettaria cardamomum tumbuh baik di daerah dengan curah hujan 1500-5000 mm, dengan suhu udara antara 10-35°C. Selanjutnya tanaman tersebut, membutuhkan lahan yang cukup subur, rindang, dan terlindung dari angin. Elettaria cardamomum dapat diperbanyak melalui biji dan rimpangnya sebagai "sebetan" dari induk tanamannya.

Biji Elettaria cardamomum bila disebar dapat tumbuh setelah 1-3 bulan disemai. Tumbuhnya tidak merata dan dapat dipindahkan bila telah berdaun tiga helai. Elettaria cardamomum mulai berbunga setelah berumur tiga tahun ditanam atau 3-5 tahun setelah disemaikan.

Buah Elettaria cardamomum mulai masak dan dapat dipetik 3-4 bulan setelah berbunga. Sebaiknya buah dipetik sebelum masak benar.
Rata-rata hasil per tahun berkisar antara 112-280 kg/ha buah kering. Elettaria cardamomum dapat menghasilkan dan masih menguntungkan hingga umur 15 tahun.

Ada tiga tipe Elettaria cardamomum, yaitu tipe Mysore, Malabar, dan Ceylon, masing-masing dengan kadar minyak cineole 41%, 26,5%, dan 3,3% dan kadar terpinyl acetat 30%, 34,5%, dan 0,1%. Dari ketiga tipe tersebut, mana tipe yang baik untuk dikem- bangkan di Indonesia masih memerlukan penelitian yang lebih mendalam.
Sepanjang pengetahuan penulis hingga saat ini, kedua jenis kardamon tersebut tidak banyak diganggu hama maupun penyakit yang merugikan. Sebaliknya, di India dan tetangganya dinyatakan bahwa Elettaria mudah diserang penyakit virus katte yang sangat disegani pemiliknya. Hama yang sekali-kali dapat merusak daun kardamon adalah belalang dan tikus. Hama tersebut dapat pula merusak biji kardadmon yang masih muda maupun yang hampir masak.

4. Komposisi kimiawi biji elettaria cardamomum Buah elettaria cardamomum

Buah elettaria cardamomum mengandung rata-rata 3-8% minyak atsiri (minyak cardamon), 10% zat protein, 10% fixed oil, 20-40% zat pati (tepung), dan beberapa jenis zat mineral. Minyak Kardamon tidak berdiri sendiri namun terdiri atas beberapa jenis minyak, misalnya cineole, terpynil-acetat, limonene, dan sebagainya. Minyak kardamon diperoleh melalui destilasi dengan uap air.

Powered by 123ContactForm
 

Agrosukses Pustaka Info | www.agrosukses.com, Pasar Agrobisnis Online, Email: admin@agrosukses.com, SMS: 0 8 1 1 1 8 5 9 2 9