GRATIS EBOOK:

Bonus 3 Sekaligus:

Geliat Cacing, Raup Rejeki


Fauna ini kerap disepelekan, dan dianggap menjijikkan. Bagi Wagirun, geliat cacing justru jadi sumber rezeki. Akibat ulah licik para ma-fia atau spekulan tidak ber- tanggungjawab, bisnis cacing menjadi suram. Meskipun begitu, Wagirun tetap bertahan beternak cacing. "Jika tidak menguntung-kan tentu saya sudah ikut-ikutan kabur mas," ungkap Wagirun yang kini menggeluti usaha kotoran cacing dan bubuk cacing.

Menurut Wagirun, yang paling penting menyiasati dan mencari pasar. "Dulu petani cacing gulung tikar lantaran terjebak persoalan pasar. Para spekulan meminta agar calon peta-ni membeli cacingnya dengan harga tinggi. Dengan janji palsu, hasil panen akan dibeli. Kenyataannya setelah berhasil dibiakkan, spekulan itu ngacir," paparnya. Pengalaman itu bikin jera banyak petani. Terlebih petani latah. Usaha cacing pun menjadi dipandang sebelah mata.

Menjual Kotorannya
"Selama ini saya menjual pupuk untuk keperluan proyek pertamanan, dan saya titipkan di berbagai toko pertanian. Cacingnya saya jadikan bubuk lantas dikapsulkan. Lumayan 1 kapsul berisi 500 g" terang anggota Asosiasi Vermi Indonesia itu.

Cacing bukan produk utamanya. Justru kotoran alias kascing sebagai produk utama. Kascing sangat bagus untuk menyuburkan tanaman hias, sayur, dan buah. Tidak berbau. Ada yang berbentuk serbuk, pelet, dan cair.

Cacing yang dibudidayakan jenis cacing tanah yang diintroduksi dari Hongkong, yaitu Lumbricus rubellus. Bentuknya mirip cacing tanah kebanyakan. Hanya saja warnanya lebih merah. Cacing ini lebih doyan makan daripada cacing tanah biasa.

Wagirun membudidayakan cacing sebagai binatang penghasil pupuk. Kadar hara dalam kotoran cacing lebih baik daripada jenis pupuk lain. "Penelitian di Jepang mengakui, pupuk kascing adalah pupuk unggul di dunia,"

Wagirun juga punya idealisme. "Di Jakarta 'kan banyak sampah melimpah ruah. Daripada selalu bikin masalah dan banjir 'kan bisa dimanfaatkan sebagai pakan cacing. Udah murah, banyak, pasokannya kontinyu," terang pria asal Kebumen, Jawa Tengah ini.
Cacing Lumbricus rubellus mampu berproduksi optimal di dataran tinggi berhawa sejuk. Lokasi pemeliharaan juga harus lembap. Tempat teduh atau terhindar dari sinar matahari (gelap lebih bagus). Terbebas dari berbagai hama, semisal kecoa, semut, dan kutu ayam (gurem).

Menurut Wagirun, ada banyak ba-han bisa digunakan sebagai media budidaya cacing. Contohnya, kotoran sapi, kambing ayam dan sampah or-ganik. Namun berdasar hasil penelitian oleh SUC0FIND0, dan berbagai pene-litian di Jepang, kotoran sapi paling bagus digunakan sebagai media atau pakan cacing.

Sebelum digunakan sebagai pakan cacing, kotoran sapi harus sudah benar- benar jadi (matang). Artinya, sudah tidak membusuk lagi dan sudah tidak mengalami proses fermentasi lagi. Sebab, bila hal itu ter-jadi, bisa mengganggu pertumbuhan cacing. Bahkan bisa mengakibatkan kematian cacing. Karena itu, agar lebih aman, kotoran itu sebaiknya disimpan selama 1- 2 minggu lebih dulu.


Cacing mampu berkembang biak cepat. Seekor induk dewasa mampu menghasilkan ratusan telur setiap bulannya. Idealnya, dalam setiap besek dihuni indukan. Sebelum in-duk dimasukkan dalam besek, media atau pakan dimasukkan lebih dulu. Setiap besek butuh sediaan pakan sebanyak 1 kg per hari. Pada malam hari, cacing mengganyang habis pakan itu. Jadi, Anda harus menyediakan jatah pakan secara rutin sebanyak 1 kg setiap hari untuk memenuhi 1 besek cacing. Rakus, ya! 

Powered by 123ContactForm
 

Agrosukses Pustaka Info | www.agrosukses.com, Pasar Agrobisnis Online, Email: admin@agrosukses.com, SMS: 0 8 1 1 1 8 5 9 2 9