GRATIS EBOOK:

Bonus 3 Sekaligus:

Buah Biwa SI Buah Langka




Indonesia kaya buah langka yang belum dibudidayakan. Lantaran belum banyak dikenal atau dari sisi ekonomi kurang menguntungkan. Tetapi bagi penggemar tabulampot, buah-buah unik akan memberi nilai tersendiri. Seperti halnya buah biwa (Eriobotrya japonica).

Buah biwa terkenal dengan nama loquat atau japanese plum. Ada dugaan, buah asal Cina bagian selatan ini diintroduksikan ke Jepang pada masa lalu.

Di belahan bumi barat, Kaemfer adalah ahli botani yang pertama mempelajari biwa, pada tahun 1690. Thunberg, seorang botanis, melengkapi data tentang biwa sejak melihat biwa di Jepang tahun 1712. Selanjutnya, biwa ditanam di National Gardens, Paris, pada 1784. The Royal Gardens di Kew, Inggris menanam biwa, tahun 1787. Dari Inggris, biwa menyebar ke Riviera, Malta, dan Algeria. Di sanalah biwa mulai diperdagangkan di pasar lokal.

Multi manfaat
Ada sekitar 800 varietas yang sudah dikenal. Kebanyakan dibudidayakan di Jepang, Thailand, dan Amerika (khususnya California). "Yang jelas, banyak diminati oleh etnis Tionghoa," kata Irwan M, dari Balai Penelitian Tanaman Buah (Balitbu) Solok, Sumatera Barat.

Buah biwa mempunyai nilai komersial tinggi. Kenapa disukai? Sebagai buah konsumsi, buah biwa rasanya segar, manis sedikit asam. Buahnya hanya sebesar ibu jari orang dewasa. Jika dibelah, di dalamnya terdapat 3 biji yang diselimuti daging buah berwarna kuning. Buah muncul di ujung batang, bergerombol. Kulit buah seperti beludru.

Batang kayunya keras dengan urat kayu rapat. Umum digunakan sebagai bahan untuk membuat peralatan gambar dan penggaris. Sementara bunganya pernah dicoba untuk parfum di Perancis dan Spanyol. Hanya saja, minyak yang dihasilkan terlalu sedikit.
Daun biwa berkhasiat untuk obat stres, diare dan menetralkan mabuk karena alkohol. Bahkan dapat menetralisir nikotin dalam tubuh perokok. Juga bisa menurunkan kolesterol dan menghaluskan kulit.

Di lahan atau pot, oke
Karena potensinya itu, Balitbu mulai mengembangkan bibit biwa untuk ditanam di pekarangan. Sebagai tabulampot pun menarik lantaran buahnya eksotis. Juga rajin berbuah. Bibit biwa bisa didapat dari biji, okulasi, sambung pucuk (grafting) maupun cangkok.
Bila ditanam di lahan, jarak tanamnya 60cm x 60cm x 60cm. Lubang tanam dibiarkan 2-4 minggu agar bakteri patogen (penyebab penyakit) mati. Tiap lubang diberi pupuk kandang kering sebanyak 10 kg.

Jika ditanam sebagai tabulampot, medianya berupa campuran pupuk kandang dan tanah. Bila media telalu padat, bisa ditambahkan sekam. Setelah dicampur rata, media dimasukkan ke dalam pot dan siap ditanami.

Penanaman sebaiknya pada awal musim hujan. Agar pertumbuhannya bagus, tanaman dipupuk NPK (16-16-16) per pohon, tiga kali setahun selama periode pertumbuhan aktif. Bila ditanam di lahan, pertumbuhan aktif ini antara 2,5 - 5 m. Selain pupuk, penyiraman teratur terutama saat musim bunga. Biwa tak tahan kering.

Tanaman mulai berbunga pada umur 5 tahun, bila ditanam dari biji. Untuk bibit cangkokan, setahun sudah berbunga. Biwa berbuah musiman, setahun 2-3 kali berbunga. Hanya saja, pembetukan buah biasanya pada pembungaan kedua. Di Sumatera Utara, puncak musim buah biwa pada Agustus sampai Oktober. Di daerah subtropis, bunga mekar pada musim gugur dan berbuah pada awal musim semi.

Agar buahnya bagus dan agak besar, penjarangan buah perlu dilakukan. Untuk kultivar Tanaka biasanya disisakan satu buah per kluster, sedangkan kultivar Mogi disisakan 2 buah per kluster. Sementara budidaya biwa di Sumatera, jarang dilakukan penjarangan.

Sejak bunga mekar, buah baru bisa dipetik 90 hari kemudian. Warna kulit buah menandai tingkat kematangan. Hanya saja, warnanya tergantung dari kultivar masing-masing. Biwa sudah masak umumnya berwarna kuning. Saat mudanya berwarna hijau.

Pemetikan buah biasanya dilakukan dengan memotong satu kluster, agar tidak merusak pohon dan juga buah. Dalam satu kluster masaknya tidak bersamaan. Buah yang masak dipisahkan dengan menggunakan pisau tajam. Menarik bukan?

Hama Penyakit
Dari hasil pengamatan, hama yang banyak menyerang biwa di Indoensia adalah kutu putih. Sementara di negara pembudidaya biwa skala komersial, ditemukan beberapa hama. Semisal kutu sisik banyak menyerang di Jepang. Di Florida, lalat buah banyak menyerang. Untuk penyakit, yang sering menyerang biwa di Indonesia adalah karat daun. Penyakit itu tidak merusak biwa. Jadi jarang ada pengendalian secara rutin.

Cara Menghidangkan
Banyak cara mengonsumsi buah biwa. Bisa dikonsumsi dalam keadaan segar. Ada juga yang dicampur dengan irisan pisang, jeruk, dan kelapa muda ditambah sedikit gula. Di Thailand, buah biwa disajikan sebagai buah kaleng.

Ada yang menyajikan sebagai minuman mirip sirup. Bisa juga disajikan dengan campuran kayu manis, jeruk, dan cuka.

Dalam skala industri, biwa menjadi bahan saus. Sementara di California, buah biwa muda diolah menjadi jeli. Buah biwa muda kaya pektin. Usaha pembuatan jeli masih bersifat home industry.

GABUNG DI MILIS: http://bit.ly/bQX5lK

Powered by 123ContactForm
 

Agrosukses Pustaka Info | www.agrosukses.com, Pasar Agrobisnis Online, Email: admin@agrosukses.com, SMS: 0 8 1 1 1 8 5 9 2 9