GRATIS EBOOK:

Bonus 3 Sekaligus:

Cara Pintar Mengatur Panen Apel


Panen apel 30ton/ha bisa diperoleh para pekebun pada periode Oktober-Januari. Begitu sampai di April-Juni cuma 5ton/ha. Padahal saat itu harga justru lagi bagus karena saingannya, buah musiman, langka di pasar. Dengan mengatur waktu perompesan, produksi bisa stabil di kisaran 15ton-30ton/ha.

Kondisi iklim Indonesia sebenarnya rezeki pekebun apel. Di negara 4 musim, apel hanya berbuah sekali setahun. Di sana, daun-daun berguguran saat musim gugur dan kondisi inilah yang merangsang pembuahan. Di sini, pengguguran daun (rompes) bisa diatur sesukanya. Otomatis waktu panen pun dapat diprogram dengan baik. Hanya saja perompesan daun yang dilakukan para pekebun apel belum pas waktunya.

Di Batu, Poncokusumo, dan Nongkojajar, perompesan daun dilakukan pada musim kemarau. Jumlah buah yang diperoleh 70%-90% dari total bunga. Namun, pada musim hujan bunga yang berhasil menjadi buah hanya 5%-30%. Hasil itu sangat rendah karena pekebun hanya bisa panen 5ton per ha. Bahkan pada beberapa tahun lalu terjadi gagal panen karena tingginya curah hujan. Pekebun pun hanya panen sekali setahun. Bunga yang kena hujan, tepung sarinya melempem sehingga melekat di tangkai.

Sebagai gambaran, jumlah curah hujan harian sebanyak 2,5mm yang terjadi pada hari ke-25 sampai 35 setelah dirompes, menghasilkan produksi rata-rata 7kg buah per pohon umur 10 tahun. Bila perompesan dilakukan pada musim kemarau dengan curah hujan harian 3mm, akan diperoleh 23,5kg apel per pohon. Pada musim kemarau, apel bersaing dengan buah lain. Mangga, rambutan, dan durian saat itu membanjiri pasar sehingga harga apel anjlok.

Pindah waktu
Untuk mengatasi kesenjangan produksi dan harga, sebaiknya perompesan dilakukan berdasarkan kondisi iklim setempat. Pekebun bisa memanfaatkan data curah hujan yang ada di instansi terkait. Data 5 tahun terakhir sudah memadai.

Dari pengalaman dan pengamatan, perompesan sebaiknya dilakukan pada Maret-April dan September-Oktober. Pemangkasan periode pertama, akhir musim hujan agar proses pembuahan tidak terganggu. Buah dipanen pada Juli- Agustus-September. Saat itu, harga apel tinggi karena tidak ada persaingan dengan buah lain. Pemangkasan pada periode II, September-Oktober, musim hujan baru akan mulai. Bahkan di beberapa daerah belum turun hujan. Kalaupun hujan, curahnya belum sampai mengganggu pembuahan. Buah dipetik pada Januari- Februari-Maret. Ketika musim panen tiba, pasokan buah musiman telah menurun.

Agar penurunan hasil tidak drastis, waktu pengguguran daun secara bertahap dipindahkan ke dua periode itu. Untuk mencapai periode tadi, diperlukan 4 musim berbuah atau 2 tahun. Selain itu, kebiasaan petani melakukan perompesan 3-7 hari setelah panen, berakibat kurang baik bagi tanaman. Oleh karena itu perlu diubah. Tunas-tunas yang akan tumbuh sebaiknya tetap dibiarkan terbentuk. Waktu yang pas menggugurkan daun adalah 7-14 hari setelah panen.

Sebenarnya, gagalnya pembuahan dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor dalam dan luar. Faktor dalam ialah tidak terjadinya penyerbukan bunga. Sedangkan faktor luar, terjadi karena ada gangguan non-patogen seperti nutrisi, hormon, dan iklim, serta gangguan patogen berupa hama dan penyakit. Kedua faktor itu dapat terjadi secara bersamaan, maupun saling mengikuti. (Trully).

GABUNG DI MILIS: http://bit.ly/bQX5lK

Powered by 123ContactForm
 

Agrosukses Pustaka Info | www.agrosukses.com, Pasar Agrobisnis Online, Email: admin@agrosukses.com, SMS: 0 8 1 1 1 8 5 9 2 9