BONUS UNTUK ANDA:

Daftar di Agrosukses Business Club (ABC) dan dapatkan gratis:
- Bonus 1 CD Direktori Pemasaran: Daftar Permintaan dan Penawaran Bidang Agrobisnis
- Bonus 1 CD Belajar Sendiri Ekspor Bidang Agrobisnis (Pertanian, Perikanan, Peternakan, Perkebunan, Kehutanan, dan Agroindustri)
- Bonus 1 DVD Video Tutorial Lengkap Budidaya 58 Komoditi


Affiliasi Agrobisnis Gratis!

Cara Mudah Cari Duit di Bidang Agrobisnis
Buktikan Sendiri di: http://www.agrodirektori.com
Tidak terbukti, kami bayar Anda 10X.


Budidaya Sapi Bali



Tulang sapi bali terbilang kecil ketimbang sapi jenis lain, tapi memiliki persentase daging lebih tebal. Permintaan jenis sapi inipun terus meningkat. Namun pembatasan penjualan oleh Pemerintah Daerah Bali membuat sapi bali semakin sulit didapatkan.

Permintaan daging sapi yang terus naik membuat bisnis penggemukan dan pembibitan sapi sangat menguntungkan. Apalagi jika sapi yang dibudidayakan adalah jenis sapi unggul seperti sapi bali.

Dari tampang, sapi bali tampak lebih kecil ketimbang postur badan sapi jenis lain, misalnya sapi peranakan ongole (PO). Namun sapi bali memiliki rasio daging lebih banyak ketimbang sapi PO.

Keunggulan sapi bali ini diakui oleh Dayan Antoni, Manajer PT Santosa Agrindo, salah satu perusahaan yang berkecimpung di bisnis daging sapi. Ia mengatakan, pada dasarnya, sapi bali tidak kalah dengan sapi brahman dan sapi limosin. Menurutnya, sapi bali cocok sebagai bahan baku usaha penggemukan sapi.

Hal senada diungkapkan oleh peternak sapi bali, I Gede Gunawan Tika. Dia mengatakan bahwa permintaan jenis sapi yang berasal dari Bali ini terus meningkat setiap tahun. Dengan bobot badan hingga mencapai 500 kilogram (kg) per ekor, permintaan sapi bali meningkat 50% saat menjelang Ramadan.

Seperti juga sapi lokal lain, daging sapi bali dijual dalam keadaan segar karena biasanya setelah disembelih langsung dijual ke pasar. Menurut Gede, ini berbeda dengan daging sapi impor yang datang dalam keadaan beku.

Itulah sebabnya, Gede yang telah menekuni bisnis turun-temurun ini mampu menjual 700 ekor sapi berbobot minimal 350 kg per ekor dalam sebulan.

Sebanyak 700 ekor sapi hidup itu biasanya dikirim ke Pulau Jawa dan Kalimantan. Dari jumlah itu, tiap bulan dia mengirimkan 400 ekor sapi ke Pulau Jawa, sedangkan 300 ekor sapi dikirim ke Kalimantan.

Dari penjualan sapi-sapi tersebut, Gede mengaku bisa mengantongi omzet Rp 5,34 miliar sebulan. "Untuk satu ekor sapi kita jual dengan harga Rp 21.800 per kilogram," katanya.

Sebenarnya, Gede sanggup menjual sapi lebih banyak. Namun saat ini Pemerintah Daerah Bali membatasi jumlah pengiriman yang boleh keluar Pulau Dewata. Pembatasan pengiriman sapi ini mengurangi potensi keuntungan bagi Gede. "Pemerintah Bali menetapkan jumlah sapi yang boleh diperdagangkan dalam satu tahun sekitar 64.573 ekor," terangnya.

Akibat pembatasan tersebut, para pedagang sapi bali pun sulit menaikkan omzet penjualan sapi antarpulau. Gede pun berharap Pemda Bali meninjau kembali ketentuan pembatasan perdagangan sapi bali.

Pembatasan jumlah sapi yang boleh dijual oleh Pemda Bali juga membuat Syaiful, penjual dan peternak sapi asal Banyuwangi, Jawa Timur kesulitan mendapatkan pasokan sapi bali. "Pasar untuk sapi bali ini terbuka lebar, namun persediaannya sangat terbatas," ujarnya.

Syaiful mengklaim dalam seminggu harus menyediakan minimal 50 ekor sapi sapi bali untuk memenuhi berbagai pesanan yang datang. Dia membanderol harga sapi bali Rp 25.000 per kg bobot hidup. Walhasil, dia melepas satu ekor sapi bali dengan bobot 500 kg di harga Rp 12,5 juta.

Untuk memenuhi pasokan sapi bali, ia harus menjelajahi Pulau Bali. Persoalannya, tidak seluruh masyarakat Bali membudidayakan sapi. Hanya masyarakat Bali Barat yang hampir rata-rata memelihara sapi. Itu pun jumlahnya tak mencukupi pesanan. Jalaran itu, Syaiful harus berpindah-pindah ke berbagai wilayah di Bali demi memburu sapi.

Ketimbang sapi limosin dari Australia atau sapi brahman dari India, sapi bali lebih mudah diternakkan. Sayang, peternak di luar Pulau Bali kesulitan mendapat induk sapi bali berkualitas lantaran ada larangan mengirim induk sapi bali oleh Pemda Bali.

Beternak sapi bali memiliki keunggulan, ketimbang jenis sapi lain seperti sapi brahman (India) atau limosin (Australia). Sapi bali lebih akrab dengan iklim tropis di negeri ini.

Dayan Antoni, Manajer PT Santosa Agrindo, salah satu perusahaan yang berbisnis daging sapi, mengatakan, penggemukan sapi bali di Indonesia tidak bergantung musim dan cocok di semua tempat. "Sapi bali bisa hidup di dataran tinggi, maupun dataran rendah. Bahkan di pinggir pantai sekalipun," kata Dayan.

Sapi bali juga unggul dalam produktivitas. Masa kehamilan sapi bali satu tahun. Adapun sapi impor harus menyesuaikan diri terlebih dulu sebelum berkembang biak. Masa kehamilan sapi brahman hingga beranak memakan waktu 1 tahun 2 bulan.

Sayangnya, dengan berbagai keunggulan itu, budi daya sapi bali sulit dilakukan di luar Bali. Hingga kini, "Pemerintah Daerah Bali masih melarang pengiriman induk sapi bali ke luar daerah," ujar I Gede Gunawan Tika, peternak sapi bali di Pulau Dewata.

Itu pula yang menyebabkan bisnis sapi Syaiful tersendat. Meski banyak permintaan, peternak dan pedagang sapi asal Banyuwangi, Jawa Timur ini tak bisa menyediakan induk sapi. "Jika ada pengiriman, itu sapi betina yang tak lagi produktif," ujarnya.

Pembatasan jumlah sapi yang boleh dikirim dari luar Bali juga menyebabkan Syaiful harus datang ke Bali untuk memperoleh pasokan. Meski paham dengan tujuan Pemda Bali yang ingin melestarikan sapi bali, Syaiful menyayangkan keputusan itu. Toh, banyak peternak sapi yang sejatinya bisa mengembangkan sapi bali di lain daerah bila memiliki induk berkualitas.

Memiliki struktur tulang kecil dan daging yang tebal, Dayan melihat kualitas sapi bali saat ini mulai menurun. Misalnya, bobot sapi semakin susut dan sulit mendapatkan bobot optimal saat digemukkan. Ia menduga, penurunan kualitas bakalan sapi bali ini merupakan imbas penurunan kualitas induk sapi bali.

Dia membandingkan, 15 tahun lalu masih bisa menjumpai sapi bali berbobot 500 kilogram (kg). "Sekarang susah ketemunya," ujarnya. Ia menduga penurunan kualitas lantaran sering terjadi perkawinan sapi dalam satu keluarga.

Dayan berharap, Pemda Bali memperhatikan kualitas induk sapi. Induk berkualitas wahid tentu akan menghasilkan bibit-bibit sapi unggulan. "Kalau perlu, harus ada pengembangan genetik bila dibutuhkan," ujarnya.

Jika kondisi ini dibiarkan, impor sapi akan merajalela. Sayang, bila pasar yang besar ini lantas disesaki oleh sapi dan daging impor.

Padahal, dengan budidaya yang baik, para peternak sapi yakin mampu menghasilkan sapi gemuk dengan kualitas yang sebanding dengan sapi impor.

Gede yang kini berusia 31 tahun ini bercerita, selain tahan terhadap cuaca, budidaya sapi bali juga gampang saja. Sapi bali membutuhkan makanan berupa rumput dan dedak dalam jumlah yang cukup. Untuk meningkatkan bobot sapi, peternak biasanya menambah asupan nutrisi dan juga vitamin.

SUMBER KLIPPING: Kontan
FOTO: ramayamakmur.wordpress.com

Powered by 123ContactForm
 

Agrosukses Pustaka Info | www.agrosukses.com, Pasar Agrobisnis Online, Email: admin@agrosukses.com, SMS: 0 8 1 1 1 8 5 9 2 9